Sabtu, 28 Agustus 2010

Dunia paralel

Pernah dengar teori dunia paralel atau dalam bahasa Inggrisnya parallel universe? Teori dunia paralel menyatakan bahwa kehidupan manusia beserta alam semesta ini [universe] sebenarnya ada banyak. Banyak semesta ini berjalan secara paralel satu sama lain. Meskipun ini hanya teori yang kebanyakan hanya muncul di cerita fiksi, tetapi ide akan adanya multiverse ini cukup populer. Keterangan tentang multiverse dan paralel universe lebih lanjut bisa dibaca di salah satu link yang muncul di sini.

Bagi Anda yang pernah menonton dan mengikuti film serial sliders, atau menonton filmnya Jet Li yang berjudul the one pasti akan dengan mudah mengerti maksud saya. Kedua film ini berlatar belakang dunia paralel yang benar-benar nyata dan manusia dengan suatu metode tertentu, bisa mengalami perjalanan antara dunia paralel ini.

Saya sendiri memiliki pandangan sendiri terhadap teori dunia paralel tersebut. Bagi saya dunia paralel itu ada. Maya [bukan nama sebenarnya, bahkan bukan nama orang]. Kemayaan dunia paralel disini maksudnya: ada, tetapi kita tidak bisa berinteraksi dengan entitas di dalamnya. Saya mengilustrasikan keparalelan dunia disini dengan banyak garis yang saling bersilangan. Dimana satu garis menggambarkan sebuah dunia/universe.

Dunia paralel ada, ketika manusia dihadapkan pada suatu persimpangan, atau suatu hal yang membuat seseorang memilih. Penjelasan ini dapat dipermudah dengan susah, dengan menggunakan eksperimen ‘kucing Schrodinger’ [Penjelasan tentang eksperimen ini bisa dibaca di sini]. Dimana saat pelaku eksperimen memutuskan untuk membuka kotak maka otomatis akan tercipta dua dunia yang baru. Dunia pertama dimana kucing ditemukan hidup, dan dunia satunya dimana kucing ditemukan mati.

Contoh lain, ketika seseorang, sebut saja -tanpa bermaksud mendiskreditkan orang bernama Adi, dihadapkan pada suatu pilihan yang mengharuskan dia memilih antara A, B, C, D, atau E [anggap saja Adi sedang menghadapi SPMB]. Maka akan terciptalah dunia-dunia dengan Adi-Adinya masing-masing sesuai pilihannya masing-masing. Pada dunia pertama dende memilih A, pada dunia kedua dia memilih B, dan juga seterusnya sampai pilihan E. Selain itu muncul juga dunia dimana Adi memutuskan untuk tidak memilih apa-apa [karena kalau salah nilainya minus], atau dunia lain lagi dimana Adi memutuskan untuk lari meninggalkan ruang kelas [karena kena diare misalnya], atau dunia lain dengan situasi yang tak hingga banyaknya.

Karena hal tersebut berlaku untuk setiap manusia maka jumlah dunia paralel yang ada bisa dihitung. Yaitu jumlah manusia yang ada di muka bumi dikali jumlah pilihan-pilihan yang ada di tiap detik kehidupan tiap individu. Hasilnya tak hingga. Karena jumlah pilihan yang dihadapi tiap manusia dalam hidupnya tak hingga. Mulai dari persimpangan skala besar [memilih calon istri, yang seperti Dian Sastro atau Luna Maya; memilih jurusan tempat kuliah; memilih ingin komentar di post ini atau tidak], hingga skala kecil [memilih ngupil pakai kelingking atau jempol, pakai tangan kiri atau tangan kanan, pakai tangan sendiri atau tangan teman].

Tentunya banyak dunia paralel yang berbeda berarti banyak cerita hidup yang berbeda. Misalnya dengan contoh ekstrim, masih pada contoh dengan tokoh yang sama, pada dunia dengan Adi memilih pilihan A, Adi bisa lulus SPMB; diterima masuk jurusan komputer Institut Ternama di Bandung; diwisuda dengan sukses; jadi enterpreneur; lalu berakhir jadi orang kaya raya [amin]. Atau contoh lain, pada dunia dengan Adi memilih untuk lari, ia tidak lulus SPMB; depresi; jadi gila; berakhir di Institut Tempat orang Bodoh [istilah lain yang maksa dari institusi perawatan orang cacat mental].

Masih berada dalam pandangan saya, ending-ending yang berbeda tadi, tidak mutlak terjadi hanya karena satu langkah awal. Akan tetapi terdapat percabangan-percabangan yang memungkinkan ending yang berbeda. Sebagai contoh, Adi yang memilih pilihan A, bisa saja juga berakhir di Institut Tempat orang Bodoh. Misalnya, di tengah-tengah masa kuliahnya, di semester 6 misalnya, beban kuliah yang overload membuatnya jadi stres; kemudian dia jadi gila.
Atau mungkin malah kasus sebaliknya, dende yang tidak lulus SPMB; depresi; in spite of jadi gila dia menulis buku; ternyata bukunya laris; jadilah orang kaya raya. Intinya, suatu akhir cerita [Adi kaya raya atau Adi gila], dapat ditempuh dari dunia-dunia yang berbeda, seperti halnya satu awal cerita [Adi menghadapi SPMB] dapat menimbulkan dunia-dunia yang berbeda.

Tidak ada komentar: